SPR 2, Senapan Pindad Penembus Baja Yang Disegani

Diposting pada

Senapan Pindad Penembus Baja– Senapan penembak runduk (SPR) memang tidak banyak diproduksi karena jumlah pemakainya tidaklah sebanyak pengguna pistol dan senapan serbu. Tercatat, hanya Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa yang mau memproduksi senapan penembak runduk.

Namun, tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran penembak-penembakjitu (sniper) mampu mengubah arah sebuah pertempuran. Sosok sniper pun sering kali menjadi inspirasi Hollywood yang mengangkatnya dalam film layar lebar. Mulai dari The Sniper (1952) yang masih hitam putih sampai American Sniper (2014) yang berangkat dari kisah nyata.

Dari mana istilah sniper berasal?

Istilah sniper sendiri bermula dari kata snipe, burung kecil berbulu cokelat dengan bintik aneka warna di tubuhnya yang ada di daratan India. Burung ini sangat lincah dan gesit, sehingga sulit ditangkap atau ditembak. Saking sukarnya untuk ditembak, sejak 1770-an, kalangan prajurit kolonial Inggris di India menganggap bahwa orang yang berhasil menembak jatuh burung itu berhak mendapat julukan “sniper”. Alias ahli menembak.

Istilah sniper lantas berkembang untuk menjelaskan seseorang yang pandai dalam melakukan penembakan menggunakan senapan laras panjang. Yakni, merujuk pada seorang prajurit tempur yang bertugas untuk membidik dan menumbangkan targetnya dari jarak jauh. Kalau di Indonesia dikenal sebagai penembak runduk.

Kisah Pindad

Kisah awal berdirinya PT Pindad dimulai pada 1808. Ketika itu William Herman Daendels, Gubernur Jenderal Belanda yang tengah berkuasa mendirikan bengkel untuk pengadaan, pemeliharaan, dan perbaikan alat-alat perkakas senjata Belanda. Namanya Contructie Winkel (CW), di Surabaya.

Namun, saat Perang Dunia I pertengahan 1914, banyak negara Eropa, termasuk Belanda, terlibat. Demi kepentingan strategis, pemerintah kolonial Belanda pun mulai mempertimbangkan relokasi sejumlah instalasi penting yang dinilai lebih aman. CW yang telah berubah nama menjadi Artilerie Constructie Winkel (ACW) dipindahkan pertama kali ke Bandung, pada rentang waktu 1918- 1920.

Kemudian, pada 27 Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) berdasarkan Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda. Seiring dengan hal itu, Belanda harus menyerahkan aset-asetnya, termasuk Pindad, secara bertahap pada pemerintahan Indonesia di bawah pimpinan Presiden Soekarno.

Pada tahun 1980-an pemerintah Indonesia semakin gencar menggalakkan program alih teknologi. Saat itulah muncul gagasan untuk mengubah status Pindad menjadi perusahaan berbentuk perseroan terbatas berdasarkan keputusan Presiden RI No.47 Tahun 1981. Kemudian pada awal 1983 Pindad ditetapkan sebagai badan usaha milik Negara (BUMN), sesuai dengan keputusan pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) RI N0.4 Tahun 1983, tertanggal 11 Februari 1983.

Senapan Pindad Penembus Baja

Nah, dalam pembuatan SPR, sejak tahun 2007, Indonesia sudah mampu memproduksi sendiri SPR dengan peluru yang bisa menembus kendaraan tempur berlapis baja, seperti tank. Kemudian pada 2014, SPR disempurnakan menjadi SPR 2 yang semakin canggih. Tak hanya bisa menembus lapisan baja, tapi juga memiliki peledak di balik amunisinya.

Senapan Pindad Penembus Baja

“Tapi ledakan itu hanya untuk membunuh musuh, bukan menghancurkan kendaraannya, ya,” kata Silmy Karim, Direktur Utama PT Pindad (Perindustrian Angkatan Darat).

Setelah menembus tank baja, peluru SPR 2 akan meledak di dalam kendaraan tempur tersebut.

Berdasar spesifikasinya, SPR 2 memiliki panjang senapan 1.755 mm, berat keseluruhan 19,5 kg, dan panjang barel (laras) 1.055 mm. Kemudian, rifling atau alur spiral berulir pada bagian dalam laras senjata ini ialah delapan grooves, RH 381 mm (15”) twist. Alur spiral ini akan memutar peluru agar diperoleh akurasi yang tinggi serta kestabilan aerodinamis peluru.

Sedangkan twist mengacu ke sekali putaran. RH381 mm (15”) berarti dalam setiap 381 mm, peluru mengalami satu putaran. Akibat putaran ini peluru yang masuk ke dalam senapan mampu melesat dengan kecepatan rata-rata 900 m/detik (3.240 km/jam) dengan jangkauan 2 km.

Peluru yang masuk ke dalam senapan mampu melesat dengan kecepatan rata-rata 900 m/detik (3.240 km/jam)
dengan jangkauan 2 km.

Akan tetapi peluru yang dipakai bukanlah peluru sembarangan. Senapan ini menggunakan peluru berkaliber 12,7 x 99 mm, dengan kapasitas antara 5-10 butir. Berbeda dengan pendahulunya, SPR 3 dan SPR 1 yang hanya menggunakan peluru berkaliber 7,62 x 51 mm.

Selain kaliber besar, peluru untuk senapan Pindad ini terbuat dari baja yang kekuatan materialnya lebih kuat daripada baja kendaraan. Itulah beberapa alasan ia mampu menembus lapisan baja antipeluru hingga ketebalan 10 mm.

Bicara soal peluru, SPR 2 memiliki tiga jenis peluru yang bisa digunakan. Untuk latihan menembak, biasanya digunakan peluru jenis MU3-M yang tidak memiliki kemampuan menembus baja. Dua peluru lainnya, MU3-SAM dan MU3-BLAM, mampu menembus kendaraan baja. Namun, hanya MU3-BLAM yang memiliki bahan peledak di dalamnya. Semua jenis peluru tersebut juga diproduksi sendiri oleh Indonesia.

Karena digunakan sebagai senapan runduk, Silmy menjelaskan bahwa soal akurasi dan hentakan menjadi bagian yang krusial. Senjata yang menghasilkan hentakan yang besar tentu menyulitkan penembak dalam membidik sasaran dengan akurat. Hal penting lainnya adalah peredam suara.

Karena itu, SPR 2 dilengkapi peredam hentakan dan silencer (peredam suara hentakan) yang mampu menurunkan suara tembakan sekitar 20-30 desibel. Berkurangnya suara tembakan membuat penembak runduk pun kecil kemungkinan terdeteksi lokasinya.

Untung Pindad tidak banyak

Silmy mengakui, telah banyak upaya diusahakan untuk membuat senapan Pindad penembus baja ini. Jika dilihat dari kacamata ekonomi tidaklah terlalu ekonomis. Akan tetapi itu tak masalah baginya. Karena Silmy tahu, tuntutan kepada Pindad adalah kemandirian, bukan keuntungan. Jadi, meski untungnya tipis, ya tetap dikerjakan. Apalagi ini merupakan produk Indonesia, harganya tentu dituntut untuk lebih murah dibandingkan produk impor.

Bagi Silmy, arti kemerdekaan dulu dan sekarang memang sangatlah berbeda. Kalau dulu merdeka itu terbebas dari penjajah. Tapi apa artinya merdeka sekian lama, kalau belum bisa memenuhi kebutuhan bangsa dengan mandiri? “Dalam tanda kutip artinya kita belum merdeka,” ujar Silmy yang hingga kini juga menjabat sebagai Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan.

Jadi, berbanggalah dengan produk-produk Indonesia. Karena itu salah satu esensi kemerdekaan kita saat ini.